Sponsors Link

6 Karya Sastra Bercorak Budha di Indonesi

Karya Sastra Bercorak Budha yang paling tersehohor adalah kitab sutasoma karangan Mpu Tantular dan diciptakan atas perintah dan Raja Majapahit pada saat itu. Penyebaran ajaran budha di Indonesia sendiri sangat mempengaruhi berbagai macam kesenian yang ada. Termasuk Seni sastra.

Seperti kita ketahui bahwa seni sastra memiliki banyak bentuk dan jenis. Bentuk-bentuk karya sastra pada masa penyebaran budha di indonesia mungkin tidak sebanyak saat ini. Begitupun dengan jenis-jenis seni sastra. Namun, pada masa kerajaan Budha banyak sekali lahir berbagai macam kesusteraan tingkat tinggi yang dihasilkan oleh para pujangga masa itu. Kitab merupakan salah satu karya sastra yang lahir pada masa itu. Isinya bermacam-macam. Pada umumnya berisi peristiwa sejarah sehingga jika dibaca kembali pada masa sekarang hal tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menyingkap suatu peristiwa sejarah.

Sayangnya pada kala itu kitab yang ditulis bersifat istana sentris. Atau dalam artian lain bahwa kitab ditulis atas perintah dan pesanan raja. Maka tidak heran jika sebagian besar kitab yang ada berisi sanjungan terhadap kemasyuran seorang raja. Hadirnya peninggalan karya sastra ini membuat para penulis dan pujangga masa kini terus melakukan pembaharuan dalam seni sastra dan menghasilkan karya-karya sastra yang lebih baik lagi.

Jika pada umumnya kita mengetahui contoh seni sastra berupa cepen atau novel maka kita akan menjumpai bentuk yang sama dalam cara penyampain yang sangat berbeda dengan jaman sekarang. Uniknya, isi dari karya sastra peninggalan kerajaan Budha di Indonesia ataupun karya sastra peninggalan hindu budha ini kebanyakan disajikan dalam bentuk puisi atau sajak. Bukan merupakan kalimat langsung layaknya novel pada jaman ini. Tetapi, di dalam setiap bait atau pupuh terkandung informasi. Ungkapan yang biasa ada dalam karya sastra ini biasa disebut dengan kakawin. Seperti kebanyakan karya sastra bercorak hindu yang ada di Indonesia. Meski begitu, karya sastra lama ini tentunya tidak lepas dari unsur-unsur seni sastra ataupun unsur-unsur karya sastra.

Tema yang diambil untuk menulis kitab ini pun berasal dari kebudayaan yang ada di masyarakat kita ataupun disesuaikan dengan tradisi. Seperti kebudayaan suku jawa, kebudayaan suku batak, kebudayaan suku toraja, hingga kebudayaan suku sunda. Hal tersebut berlaku pula untuk seni sastra peninggalan islam yang tentunya banyak mendapatkan pengaruh dari agama dan kebudayaan islam.

Berikut ini merupakan karya sastra bercorak Budha yang banyak dilahirkan pada Zaman Majapahit :

  1. Kitab Nagarakartagama

Merupakan seni sastra pada zaman majapahit awal yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan berisi tentang kerajaan majapahit, daerah-daerah jajahan serta perjalanan pemerintahan Hayam Wuruk dalam memimpin daerah-daerah kekuasaanya. Nagarakertagama bukanlah judul asli. Judul aselinya ialah Desawarnana. Dari uraian kitab inilah kita dapat mengetahui seluk beluk kerajaan Majapahit. Baik itu dari sisi sosial-ekonomi, sosial-budaya bahkan politik dalam dan luar negeri. Karya sastra ini merupakan salah satu sumber sejarah terpercaya karena didukung oleh prasasti-prasasti seperti prasasti Bendasari, prasasti Kudadu, prasasti Waringin Pitu dan masih banyak prasasti lainnya.

Naskah ini diketemukan di puri cakranegara, Lombok pada tahun 1894 berserta beberapa kitab atau kakawin lainnya. Kemudian Dr. J.L.A Brandes menerbitkan naskah tersebut. Sedangkan naskah aselinya ia simpan di Leiden. Namun pada pertengahan tahun 1971 naskah tersebut di serahkan kepada presiden soeharto dan sampai dengan saat ini disimpan di Jakarta.

  1. Kitab Sutasoma

Judul asli dari naskah yang sangat terkenal ini adalah Purushada. Sutasoma digubah oleh Mpu Tantular dalam bentuk kakawin pada masa puncak kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Karena keterbatasan alat tulis pada masa itu, maka naskah sutasoma dibuat di atas lembaran daun lontar. Sejatinya, kitab ini merupakan sebuah kakawin. Kakawin sendiri merupakan istilah untuk tembang atau syair dalam bahasa jawa kuno. Iramanya di sesuaikan dan didasarkan pada irama dari india. Sehingga, untuk dapat mempelajari atau bahkan membaca sebuah kakawin diperlukan keahlian khusus.

Terdapat sebaris kalimat yang kemudian disunting oleh Ir. Soekarno yang merupakan founding fathers republik ini. Kemudian Beliau menjadikannya dengan motto dalam garuda pancasila lambang negara RI. Bait yang dimaksud adalah :

Hyāng Buddha tanpāhi Çiva rajādeva

Rwāneka dhātu vinuvus vara Buddha Visvā,

Bhimukti rakva ring apan kenā parvvanosĕn,

Mangka ng Jinatvā kalavan Çivatatva tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Bhineka Tunggal Ika sendiri memiliki arti ‘berbeda-beda tetapi tetap satu’. Kitab ini disebut-sebut sebagai kitab keramat atau apantas dikeramatkan.

  1. Kitab Pararaton

Ditulis antara tahun 1481 sampai dengan 1600. Tidak diketahui dengan jelas siapa penulis sebanarnya. Kitab ini lumayan singkat jika dibandingkan dengan kitab yang lainnya. Hanya terdapat 32 halaman seukuran folio dan terdiri daei 1126 baris. Kitab ini mengisahkan tentang sejarah raja-raja singhasari dan majapahit di Jawa Timur. Selain terkenal dengan nama Pararton, karya sastra satu ini juga dikenal dengan nama ‘Pustaka Raja’. Atau dalam bahasa sansekerta berarti ‘kitab raja-raja’.

Beberapa bagian Pararaton tidak dapat dianggap sebagai fakta-fakta sejarah karena di beberapa bagian (bagian awal) terdapat materi yang mencampurkan fakta dan fiksi atau khayalan. Sehingga kenyataan dan karangan saling berbaur.

  1. Kitab Arjuna Wijaya

Arjunawijaya merupakan kakawin lain yang ditulis oleh tangan Mpu Tantular. Kakawin atau kitab ini menceritakan mengenai peperangan antara Prabu Arjuna Sahasrabahu dan pendeta Parasu Rama. Tampaknya karya Mpu Tantular memang selalu terkenal, karena selain sutasoma, naskah ini pun sangat populer. Dikatakan begitu karena begitu banyak naskah dalam bahasa Bali dan Jawa Kuna.

  1. Kitab Kunjarakarna

Kunjarakarna menceritakan atau mengisahkan tentang pembebasan terhadap Yaksa Kunjarakarna dan saudaranya Purnawijaya. Kitab ini berdifat Budhisme-Mahayana. Diketahui bahwa ada dua jenis atau dua versi dari kitab Kunjarakarna ini. Versi pertama berbentuk Prosa dan ditulis pada zaman Darmawangsa, itu menurut Poerbatjaraka. Sedangkan menurut h. Kern naskah ini ditulis pada bagian kedua di Jawa Barat. Bentuk atau versi lain dari kitab ini berupa Kakawin dan ditulis dari zaman Majapahit. Meski bersifat Budhisme, tetapi cerita dalam kitab ini sangat digemari pada jaman Hindu – Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya relief candi yang memuat tema daripada kitab tersebut.

  1. Kitab Sudayana

Sedikit berbeda dengan kitab sebelum-sebelumnya, kitab sudayana ini merupakan sebuah kidung sunda. Dalam kitab ini disebutkan beberapa informasi penting mengenai perang bubat. Perang bubat sendiri merupakan sebuah perang yang pada mulanya merupakan sebuah rencana pernikahan. Rencana perkawinan tersebut berujung menjadi peperangan antara Majapahit dan Pajajaran. Dalam bait 1 disebutkan bahwa kerajaan sunda Galuh berlayar dari tanah sunda ke ujung jawa timur dengan membawa armada.

Armada yang disebutkan dalam kitab ini berjumlah 2000 kapal berikut kapal-kapal kecilnya. Dalam tradisi jawa, dimanapun, dalam sebuah acara pernikahan, laki-laki lah yang harus datang ke tempat calon istri. Namun, pada peristiwa ini. Paduka Sri Baduga Maharalah yang mengantarkan Citraresmi atau Dyah Pitaloka kepada calon suaminya. Perang Bubat berakhir dengan kalahnya kerajaan Sunda Galuh, dan Dyah Pitaloka yang dikisahkan bunuh diri setelah peperangan berakhir.

Itulah karya sastra bercorak Budha yang ada di Indonesia. Bagaimanapun, karya sastra peninggalan sejarah ini turut mempengaruhi perkembangan karya sastra pada saat ini. Sumber sejarah ini dapat menjadi bahan informasi di dunia sejarah. Cerita-cerita sejarah seperti yang dikisahkan dalam kitab-kitab hasil tangan para pujangga ini tidak luput dari sorotan industri kreatif bentuk lain. Bukan hanya dalam bidang sastra tulis bidang penerbitan dan percetakan yang merupakan sub sektor industri kreatif, tetapi turut diangkat ke dalam bentuk lain seperti film ataupun drama.

Kita sudah tahu mengenai perbedaan seni teater dan drama yang telah dibahas sebelumnya. Tentunya dengan mengadopsi unsur seni sastra menjadi unsur-unsur pementasan drama dengan bantuan sutradara dan kru yang lainnya. Dimana terhadap hubungan yang saling mempengaruhi antara film atau drama dengan seni budaya khususnya di Indonesia. Pengaruh perfilman pada seni budaya terjadi karena apa yang disajikan atau yang dipresentasikan di dalam film merupakan budaya yang ada di masyarakat. Sehingga dalam hal ini identitas lokal akan tumbuh subur dan mulai bermunculan Ataupun sebaliknya, identitas lokal akan tenggelam karena mungkin ada pengaruh kebudayaan luar. Hal itu bisa saja terjadi. Apalagi industri pertelevisian kini menjadi salah satu dari jenis-jenis idustri kreatif yang perkembangannya pesat sampai dengan saat ini.

Manfaat belajar seni sastra melalui peninggalan sejarah semacam ini tentu sangat baik karena kita akan memperoleh informasi lain berupa sejarah dari peristiwa masa lalu sehingga memperluas wawasan yang kita miliki. Selain itu, dengan mempelajari sejarah berarti kita turut mengapresiasi karya sastra indonesia melalui naskah-naskah kuno yang telah disebutkan tadi. Apresiasi sangat penting karena berbanding lurus dengan pentingnya peran dan fungsi kritik sastra.

, , ,




Oleh :
Kategori : Seni Sastra